Perayaan akhir tahun Masehi merupakan cerminan kompleksitas hubungan antara agama, budaya, sejarah, dan globalisasi di negara-negara dengan akar Islam yang kuat. Turki sebagai pewaris Konstantinopel yang kosmopolitan dan Indonesia sebagai negara kepulauan yang majemuk sama-sama merayakan pergantian kalender negara pada 31 Desember. Namun, kesamaan waktu tersebut tidak melahirkan kesamaan makna. Justru, perayaan Tahun Baru di kedua negara ini menampilkan jalur kontroversi sosial yang berbeda, sesuai dengan sejarah dan cara masing-masing masyarakat mengelola simbol di ruang publik.
Di Turki, perayaan akhir tahun dikenal sebagai Yılbaşı (kepala tahun) yang secara tegas diposisikan sebagai hari libur sekuler untuk menyambut Tahun Baru Masehi. Perayaan ini secara normatif terpisah dari Natal sebagai perayaan keagamaan. Negara dan institusi publik menyatakan bahwa Yılbaşı bukanlah perayaan keagamaan, melainkan perayaan sipil yang berkaitan dengan kalender modern. Namun, yang menarik dalam praktik perayaan sosial ini adalah hadirnya sosok Noel Baba (Santa Claus). Berbeda dengan Sinterklas yang identik dengan Natal di Barat, Noel Baba di Turki berfungsi sebagai simbol kultural pemberi kado hadiah pada malam 31 Desember.
Kehadiran Noel Baba dalam perayaan Yılbaşı tidak terlepas dari konteks sejarah Anatolia. Sosok legendaris Santo Nikolas, yang menjadi inspirasi figur Santa Claus modern, lahir di Patara dan menjalani kehidupannya sebagai uskup di Myra (kini Demre) keduanya di wilayah selatan Turki. Sejumlah penelitian arkeologis menunjukkan bahwa wilayah Demre memiliki kaitan erat dengan kehidupan dan kemungkinan Makam Santo Nikolas, meskipun lokasi pasti pemakamannya masih menyimpan kegiatan akademik dan keagamaan. Fakta sejarah ini menjadikan Noel Baba sebagai simbol yang memiliki akar lokal di Anatolia, namun kemudian mengalami transformasi visual dan makna melalui pengaruh Barat dan budaya populer global.
Dalam praktik perayaan, Yılbaşı dirayakan secara terbuka di ruang publik. Seperti yang biasanya terlihat menarik pusat dunia dan jalan-jalan meriah Istanbul adalah mengadopsi visual dari Barat yang terintegrasi ke dalam perayaan Yılbaşı. Masyarakat berkumpul di tempat ikonik seperti Taksim Square atau di sepanjang Bosphorus untuk menikmati kembang api, konser, dan menunggu pengundian lotre nasional (Milli Piyango) yang menjadi ritual wajib malam pergantian tahun. Aktivitas ini menandai optimisme dan pelepasan simbolik dari tahun sebelumnya, sekaligus menegaskan karakter Yılbaşı sebagai perayaan sekuler yang dilembagakan secara sosial.
Di Indonesia, perayaan akhir tahun memiliki kompartemen ganda yang lebih jelas antara ranah keagamaan dan ranah sekuler. Perayaan Natal pada tanggal 25 Desember yang merupakan hari raya keagamaan umat Kristiani yang diakui negara dan diresmikan sebagai hari libur nasional. Di sini figur Sinterklas atau Santa Claus hadir sebagai simbol keagamaan dan budaya yang sering kali dipengaruhi oleh tradisi kolonial Belanda dan praktik gerejawi. KeduaSementara itu, perayaan Tahun Baru Masehi pada malam 31 Desember diposisikan sebagai perayaan sekuler dan dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa meninggalkan agama tertentu sebagai hari libur nasional.
Perbedaan kunci antara Indonesia dan Turki terletak pada cara simbol dimaknai dan dikelola di ruang publik. Di Indonesia, Tahun Baru Masehi dirayakan dengan ritual yang lebih sederhana namun masif, seperti tiupan terompet yang serentak, pesta kembang api di alun-alun kota, dan acara konser musik. Simbol-simbol ini dipahami sebagai ungkapan kegembiraan kolektif tanpa muatan keagamaan yang spesifik. Berbeda dengan Turki, di mana elemen visual seperti pohon Yılbaşı Ağacı sering dianggap sebagai dekorasi Tahun Baru yang universal dan tidak diasosiasikan langsung dengan perayaan Natal. Penggunaan simbol Natal di ruang publik Indonesia sering kali menjadi subjek diskusi dan memuat terkait pluralisme dan toleransi antar umat beragama. Hal ini telah menunjukkan sensitivitas budaya yang berbeda.
Baik di Istanbul maupun Jakarta, perayaan akhir tahun tidak luput dari kritik sosial. Di Turki, kelompok konservatif mengkritik Yılbaşı sebagai tradisi yang "terlalu Barat" atau "tidak Islami". Meskipun koneksi historis Noel Baba terbukti ada di tanah mereka sendiri. Kritikan ini memaksa pemerintah untuk kadang-kadang mengambil sikap netral atau memoderasi perayaan yang dianggap terlalu terbuka.
Sebaliknya, di Indonesia cenderung menekankan pada batas-batas toleransi dan peringkat makna simbolik. Khususnya seputar penyebaran antara simbol keagamaan Natal (Sinterklas dan atributnya), hingga perayaan Tahun Baru (kembang api dan terompet) yang diterima secara umum. Masyarakat Indonesia secara sosial dengan tegas memisahkan dua perayaan ini. Natal merupakan perayaan keagamaan dengan makna spiritual yang mendalam bagi umat Kristiani. Sementara Tahun Baru diposisikan sebagai pesta sekuler untuk menyambut kalender Masehi baru.
Perbandingan antara Yılbaşı di Turki dan perayaan Tahun Baru di Indonesia menampilkan bagaimana globalisasi berinteraksi dengan sejarah lokal dan struktur sosial yang berbeda. Turki memilih jalur sekularisasi total Yılbaşı sambil mengadopsi simbol Noel Baba yang memiliki akar sejarah di Anatolia, lalu mengintegrasikannya ke dalam identitas nasional yang bersifat sekuler. Sebaliknya, Indonesia didorong oleh pluralisme yang mengutamakan ketat dan mempertahankan batas yang jelas antara hari raya keagamaan (Natal) dan perayaan yang dikukuhkan secara universal (Tahun Baru). Perspektif kedua ini menawarkan studi kasus yang kaya tentang adaptasi budaya di dunia modern. Menunjukkan bahwa cara suatu negara menyambut masa depan sering kali merupakan negosiasi antara masa lalu yang mendalam dan tekanan global.
Penulis: Putri Nur Qayyum Dewantari
Redaktur : Muhammad Rangga Argadinata
Sumber artikel;
https://ejournal.uin-suka.ac.id/isoshum/sosiologireflektif/article/download/3166/1947/10433
https://dergipark.org.tr/tr/pub/asbi/article/1096553
https://dergipark.org.tr/en/pub/trta/article/1504862

