Sistem pendidikan Turki sedang mengalami perubahan besar yang mempengaruhi tidak hanya struktur kurikulum, tetapi juga arah pencarian identitas nasional. Reformasi yang berlangsung dalam dua dekade terakhir, menampilkan pergeseran ideologi yang membawa pendidikan ke dalam memuat antara warisan sekuler-republikan/Kemalisme dan pendekatan yang lebih religius serta historis yang semakin menguat dalam politik kontemporer.
Sejak didirikan oleh Mustafa Kemal Atatürk, Republik Turki menjadikan sistem pendidikan sebagai landasan utama sekularisasi dan modernisasi. Sekolah diposisikan sebagai ruang untuk membentuk warga negara yang rasional, ilmiah, serta setia pada prinsip sekuler yang berorientasi pada kemajuan Barat. Posisi ini menjadikan kurikulum sebagai alat penting dalam menegakkan sekularisme dan nilai-nilai modern. Namun perkembangan sosial dan politik pada era pemerintahan Partai AKP mengusung tafsir baru terhadap fungsi pendidikan tersebut.
Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip ErdoÄŸan, pendidikan diberi muatan nilai budaya, moral, dan agama yang dianggap mewakili karakter mayoritas masyarakat Turki. Perubahan ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan upaya mengidentifikasi kembali jati diri bangsa, sesuatu yang menjadikan sekolah sebagai salah satu arena retorika politik paling penting di Turki modern.
Salah satu titik perubahan terjadi pada tahun 2017 ketika Kementerian Pendidikan Nasional (MEB) secara resmi menghapus Teori Evolusi Charles Darwin dari kurikulum sekolah menengah. Secara teknis, pemerintah beralasan teori ini "terlalu kompleks" atau "kontroversial" untuk diajarkan.
Namun, bagi serikat guru sekuler seperti Egitim-Is dan kelompok oposisi, langkah ini dianggap sebagai deklarasi perang terhadap nalar dan ilmu pengetahuan universal. Penghapusan Evolusi yang merupakan fondasi biologi modern telah menunjukkan bahwa tujuan pendidikan tidak lagi sekedar pengetahuan ilmiah. Tindakan tersebut berubah menjadi pembentukan keyakinan yang sejalan dengan agenda konservatif.
Ini merupakan sinyal yang jelas bahwa MEB kini berfungsi sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan tradisional, mengikis prinsip pendidikan yang berbasis pada akal dan sains yang diwariskan oleh Atatürk.
![]() |
| Sumber: kuliahditurki.id |
Kontroversi ini tidak berhenti pada satu subjek. Perubahan kurikulum telah menjadi sistematis untuk mewujudkan visi Presiden ErdoÄŸan: membentuk “generasi religius yang saleh” (Dindar nesil).
- Penguatan Ajaran Agama: Porsi mata pelajaran agama, termasuk detail ajaran Islam dan sejarah Nabi Muhammad (Siyer), ditingkatkan secara signifikan. Hal ini dilakukan di tengah kritik bahwa waktu yang berharga untuk mata pelajaran sains, matematika, atau filosofi menjadi berkurang.
- Kebanggaan Utsmani Menggantikan Kemalisme: Narasi sejarah direorientasi secara radikal. Kurikulum baru lebih fokus pada kejayaan dan kebesaran Kerajaan Utsmani. Era Atatürk dan terbentuknya Republik seringkali hanya disinggung sebagai episode yang harus diperbaiki, bukan fondasi yang harus dijunjung tinggi. Anak-anak Turki didorong untuk mengidentifikasi diri dengan era Kesultanan, bukan dengan era modernisasi sekuler.
- Fi losofi dan Kepercayaan: Materi filosofis dan sosiologis, yang mendorong pemikiran kritis dan skeptisisme, semakin dikesampingkan atau dibingkai dalam konteks yang mengutamakan nilai-nilai agama daripada menyelidiki rasional murni.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran fokus. Kurikulum lama tekanan rasionalitas dan orientasi sains, sementara kurikulum baru mencoba menggabungkan pengetahuan modern dengan nilai spiritual dan identitas budaya yang dianggap penting bagi masyarakat.
Perubahan Tidak Hanya pada Pendidikan Dasar
Perdebatan mengenai pendidikan tidak berhenti pada tingkat sekolah. Setelah peristiwa kudeta 15 Juli 2016, sejumlah ilmuwan dihentikan melalui keputusan darurat administratif, Keputusan Hukum Darurat dengan tuduhan terkait terorisme (FETÖ). Penunjukan rektor dibuat lebih murah di bawah kewenangan Presiden. Langkah ini menimbulkan diskusi mengenai batas antara stabilitas kelembagaan pasca-krisis dan perlunya menjaga kebebasan ruang akademik.
Dari tindakan pembersihan yang diklaim untuk keamanan nasional, mendatangkan pengaruh terciptanya budaya sensor diri (self-censorship) yang meluas di universitas-universitas.Dua pengaruh dari kejadian tersebut;
- Pengekangan Penelitian Kritis: Penelitian yang menentang kebijakan pemerintah, termasuk reformasi pendidikan dan kebijakan sosial, kini berisiko tinggi memicu penyelidikan atau pemecatan.
- Independensi Terkikis: Otonomi universitas prinsip dasar kebebasan akademik telah terkikis karena Presiden memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam menunjuk rektor. Universitas, yang seharusnya menjadi benteng intelektual yang mandiri, kini sering dianggap sebagai perpanjangan dari birokrasi politik.
Kelompok sekuler dan oposisi telah melakukan perlawanan yang gigih. Serikat guru dan pengacara berulang kali mengajukan tuntutan hukum dan mengklaim bahwa perubahan kurikulum ini melanggar prinsip pendidikan sekuler yang dijamin Konstitusi. Namun upaya hukum sering kali berjalan lambat dan tidak selalu menghasilkan keputusan yang sesuai dengan harapan pengkritik. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara persetujuan publik dan proses kebijakan formal.
![]() |
| Sumber: kumparan.com |
Turki sendiri memiliki sejarah panjang tarik-menarik ideologi dalam pendidikan. Perdebatan tentang apakah sekolah harus menonjolkan sekularisme atau nilai-nilai keagamaan bukanlah hal baru. Reformasi pendidikan selalu mencerminkan dinamika politik yang lebih luas di masyarakat. Untuk memahami kontroversi yang terjadi saat ini, penting untuk membedah dua ideologi proyek yang sangat kontras mengenai identitas Turki yang diwariskan oleh kedua pemimpin tersebut:
1. Kurikulum Kemalis dan Kurikulum Era AKP
Untuk memahami konteks perubahan, penting melihat dua kerangka utama yang membentuk pendidikan modern Turki.
Kurikulum awal didasarkan pada ideologi Kemalisme dengan enam prinsip dasar (Republikanisme, Nasionalisme, Populisme, Statisme, Sekularisme, dan Reformisme). Melalui Tevhid-i Tedrisat , seluruh institusi pendidikan dipersatukan di bawah satu otoritas negara. Kurikulum difokuskan pada sains, teknologi, dan orientasi Barat. Pengenalan huruf Latin pada tahun 1928 menandai transformasi budaya yang bertujuan membangun masyarakat modern sesuai visi Republik.
Tujuan dan Prinsip Utama Kurikulum Kemalis:
Intisari Warisan: Kurikulum Atatürk berfungsi sebagai alat rekayasa sosial untuk mengubah masyarakat petani yang sebagian besar konservatif dan religius menjadi masyarakat profesional, cerdas, dan sekuler yang diperlukan untuk lembaga sosial dan ekonomi umat modern.
Sedangkan kriteria kedua, yang dimulai dari kebijakan Presiden ErdoÄŸan dan Partai AKP yang berkuasa sejak tahun 2002 didorong oleh motivasi yang secara mendasar dibandingkan dengan warisan Kemalis. ErdoÄŸan, yang merupakan lulusan sekolah Imam-Hatip (sekolah kejuruan berbasis Islam), bergerak ke arah nilai keagamaan, moral, dan sejarah. Pendidikan diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai spiritual yang kuat, serta memperluas ruang bagi warisan Utsmani dalam narasi sejarah. Sekolah Imam Hatip tumbuh pesat untuk memenuhi permintaan masyarakat yang konservatif. Setelah tahun 2016, sektor pendidikan juga menjadi bagian dari proses penataan ulang kelembagaan negara.
Motivasi Utama Perubahan Kurikulum di Era ErdoÄŸan:
Intisari Proyek ErdoÄŸan: Perubahan ini adalah upaya de-sekularisasi yang bertujuan untuk menyelaraskan sistem pendidikan dengan identitas keagamaan dan budaya mayoritas Turki yang selama beberapa dekade ditekan oleh rezim sekuler.
Penutup
Pertarungan mengenai kurikulum di Turki pada dasarnya merupakan pertarungan untuk menentukan masa depan identitas bangsa. Dengan mengambil alih dan membentuk kurikulum, pemerintah ErdoÄŸan tidak hanya mendiktekan apa yang diajarkan, tetapi juga secara proaktif merekayasa identitas sosial politik dari generasi warga negara Turki berikutnya.
Di satu sisi terdapat tradisi modernisasi dan sekularisme. Di sisi lain terdapat upaya yang menegaskan kembali nilai-nilai historis dan religius yang tertanam kuat dalam masyarakat. Perdebatan ini menjadikan ruang kelas menjadi salah satu titik paling penting dalam perkembangan politik dan budaya Turki kontemporer.
Jika proyek ideologis ini berlanjut tanpa penyeimbang yang efektif, Turki akan melahirkan generasi yang secara ideologis menjauh dari cita-cita modernis dan sekuler yang diwariskan oleh para pendiri Republik. Ini lebih dari sekedar reformasi pendidikan saja. Ini adalah Konstruksi Ulang Identitas Nasional dari akar yang secara mendasar mengubah semua aspek negara Turki itu sendiri.
Penulis: Putri Nur Qayyum Dewantari
Redaktur : Muhammad Rangga Argadinata
Referensi:
- Sari, N., & Sassi, K. (2024). Perbandingan Sistem Pendidikan Turki dan Indonesia. Jurnal Nakula: Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial, 2(1), Januari 2024.
- Naheed, N., Ul-Zaman, F., & Zahoor, T. (2023). Sekolah Imam Hatip dan Evolusi Pendidikan Agama di Turki: Sebuah Tinjauan Peran AKP. Buletin Bisnis dan Ekonomi, 12(2), 195–200.
- Lembaga Hak Asasi Manusia. (2016). Turki: Pemerintah Mengincar Para Akademisi. https://www.hrw.org/id/news/2018/05/14/317809
- Gulbay, A. (2023). İç ve Dış Politika Boyutları ile Yeni Osmanlıcılık / Ottomanisme Baru dengan Dimensi Kebijakan Dalam dan Luar Negeri. Jurnal Internasional Ilmu Sosial, 7(4), 259-284. ISSN 2587-2591. https://doi.org/10.30830/tobider.sayi.16.15
- Altın, M. (2019). Kemalizm ve Muhafazakârlık Arasında Türkiye'de EÄŸitim / Pendidikan di Turki Antara Kemalisme dan Konservatisme. Elektronik Sosyal Bilimler Dergisi (Jurnal Elektronik Ilmu Sosial), 18(71), 1497–1510. https://doi.org/10.17755/esosder.546774
- Ergin, M., & Karakaya, Y. (2017). Antara Neo-Ottomanisme dan Ottomania: Menavigasi Representasi Masa Lalu yang Dipimpin Negara dan Budaya Populer. Perspektif Baru tentang Turki, 56, 33–59. https://doi.org/10.1017/npt.2017.4
- Bakan Yilmaz. (2024). Yeni Müfredatın Tanıtımı. https://meb.gov.tr/bakan-yilmaz-yeni-mufredati-acikladi/haber/14112/tr

