Ketika Turki Mampu Meracik Mistik dan Modernitas dalam Negara, Indonesia Masih Terjebak Logika Mistika dan Birokrasi Rapuh

        Berbicara tentang Turki berarti berbicara tentang negara unik dalam cara yang paling menarik. Ini adalah tempat di mana modernitas dan mistisisme tidak pernah benar-benar bertengkar. Di satu sisi, negara ini memiliki industri besar, birokrasi modern, universitas yang kuat dan kota-kota yang terhubung dengan ekonomi global. Tetapi di sisi lain, hampir setiap rumah memiliki nazar boncuÄŸu (evil eye), masih banyak orang tetap percaya bahwa keberuntungan bisa berubah hanya karena tatapan orang lain. 

        Para antropolog seperti Jenny White pernah mencatat bahwa “agama, ritual, dan sisa-sisa okultisme Ottoman bukan sekadar tradisi, tapi cara orang Turki memaknai dunia modern" (White, Islamist Mobilization in Turkey, 2002). Dengan kata lain, modernitas bagi Turki bukan tentang membuang hal-hal mistik, melainkan meraciknya agar tetap cocok dengan kehidupan kontemporer. Di titik inilah Turki menarik untuk dibandingkan dengan Indonesia, di mana logika mistika sering naik ke ruang publik dan justru kerap menghambat cara kita berpikir tentang banyak  hal, seperti politik, ekonomi dan masa depan.

        Untuk memahami bagaimana itu terjadi, kita harus kembali ke era Ottoman. Kekaisaran yang bertahan lebih dari enam abad ini membangun struktur administrasi yang rumit dan disiplin, lengkap dengan sistem pajak, hukum, dan birokrasi yang tertata. Namun, pada saat yang sama, kehidupan spiritual berkembang subur lewat tarekat Sufi seperti Mevlevi, Bektashi, atau Naqshbandi. Banyak peneliti, termasuk Suraiya Faroqhi dalam Subjects of the Sultan (2005), menekankan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat Ottoman selalu memiliki jejak mistik, mulai dari praktik tafsir mimpi, ziarah ke makam suci, hingga penggunaan benda-benda simbolik untuk menarik berkah dan perlindungan. Bagi masyarakat Ottoman, logika mistik ini bukan pesaing rasionalitas, tetapi lapisan lain yang membuat hidup dapat dipahami dan dihadapi.

Sumber: Yasemin.com

        Menariknya, ketika Turki memasuki zaman Republik di bawah Mustafa Kemal Atatürk, gelombang modernisasi radikal tidak berhasil menghapus lapisan tersebut. Atatürk memang menutup lembaga-lembaga tarekat secara legal dan mendorong sekularisme negara (Zürcher, Turkey: A Modern History, 2004), tetapi praktik mistik tidak hilang begitu saja.  Ia hanya pindah dari ruang publik ke ruang privat. Banyak keluarga urban tetap menggantung nazar untuk menolak "energi buruk", tetap membawa jimat kecil di tas, atau tetap membaca ramalan dari ampas kopi (Fal Bakmak). Tradisi ini tetap bertahan bukan karena masyarakatnya tidak modern, melainkan karena modernitas versi Turki memang tidak menuntut penghapusan logika mistik.

        Dalam perspektif antropologi, logika mistika di Turki bekerja sebagai cara untuk mengelola ketidakpastian dan kecemasan. Ernest Gellner, meski tidak bicara khusus tentang Turki, pernah menulis bahwa masyarakat modern tetap membutuhkan “mekanisme simbolik untuk mengolah rasa tidak pasti dalam dunia kapitalisme dan urbanisasi” (Gellner, Postmodernism, Reason and Religion, 1992). Turki adalah contoh ideal dari tesis ini: modern, tetapi tetap mempertahankan jalur komunikasi dengan dunia tak terlihat. Karena itu, ritual seperti fal bakmak atau penggunaan nazar boncuÄŸu bukan dianggap irasional; ia dilihat sebagai strategi sosial untuk menjaga keharmonisan dan memberi ruang bagi perasaan manusia yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan data. Logika mistika hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti logika rasional dalam mengelola kehidupan sehari-hari.

        Namun meski masyarakatnya hidup dengan tradisi mistik yang kuat, Turki berkembang menjadi negara modern karena faktor-faktor struktural yang jauh lebih kuat daripada sekadar cara berpikir masyarakat. Warisan administrasi Ottoman yang sangat terpusat dan disiplin memberikan fondasi besar bagi Republik Turki. Banyak ahli sejarah berpendapat bahwa Turki tidak benar-benar membangun negara dari nol, melainkan mewarisi sistem birokrasi yang matang (Findley, Bureaucratic Reform in the Ottoman Empire, 1980). Ketika Atatürk melakukan reformasi, ia mempercepat modernisasi dengan gaya top-down yang keras namun efektif. Indonesia, misalnya, tidak punya pengalaman sejarah seperti ini. Nusantara tidak pernah memiliki satu kekaisaran besar yang memerintah seluruh wilayah secara terpusat selama ratusan tahun. Di sini terlihat bahwa yang menentukan bukan ada atau tidaknya mistik di kepala rakyat, melainkan seberapa siap struktur negara mengelola modernitas.

        Modernisasi Turki juga berjalan lebih cepat karena didukung oleh militer yang berperan sebagai penjaga sekularisme dan kontinuitas negara. Selama beberapa dekade, militer menjadi lembaga yang memastikan negara tetap berada pada jalur modernitas ala Atatürk, bahkan melalui intervensi politik dalam bentuk kudeta dan tekanan terhadap pemerintahan sipil ketika dianggap menyimpang (Heper & Sayarı, Political Leaders and Democracy in Turkey, 2002). Meskipun pendekatan ini kontroversial, ia memberikan stabilitas institusional yang memungkinkan Turki melakukan pembangunan ekonomi dan pembaruan hukum lebih awal dibanding negara lain di dunia Muslim. Sementara itu, Indonesia harus berhadapan dengan transisi politik yang berulang dan tarik-menarik kepentingan yang membuat reformasi struktur berjalan jauh lebih pelan dan terfragmentasi.

        Turki terlihat “lebih modern” dari Indonesia bukanlah karena masyarakatnya tidak mistik atau lebih rasional secara individu. Justru, menurut Karen Barkey dalam Empire of Difference (2008), masyarakat Turki punya tradisi sosial yang kaya dengan praktik spiritual sejak prasejarah stepa Asia Tengah, era Islamisasi Anatolia, hingga zaman Ottoman. Tetapi perbedaan besarnya terletak pada kapasitas negara dan kesinambungan historis. 

        Ketika Indonesia merdeka, negara ini harus membangun birokrasi modern hampir dari titik nol. Belanda tidak meninggalkan sistem administrasi yang tertata, pendidikan yang merata, atau kelas birokrat pribumi dalam skala besar, sesuatu yang sangat berbeda dengan warisan Ottoman yang diwariskan kepada Republik Turki. Di tengah kekosongan struktur ini, logika mistika di İndonesia sering naik ke ruang publik dan dipakai bukan hanya sebagai penghibur batin, tetapi sebagai lensa untuk membaca politik, kesehatan dan ekonomi, dari isu dukun sampai kultus pemimpin. Sejarah ini membuat Indonesia tidak mungkin melakukan modernisasi secepat dan seterpusat Turki.

        Menurut penulis, kultur mistik Indonesia sendiri bukan hambatan otomatis bagi modernitas. Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960) menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sistem kepercayaan yang kompleks, tetapi ritual dan kepercayaan itu pada dasarnya berfungsi sebagai perekat sosial dan cara memaknai kehidupan. Ini sangat mirip dengan fungsi mistisisme di Turki. Persoalannya muncul ketika logika mistika tidak lagi berhenti sebagai ruang makna, melainkan mengambil alih ruang penjelasan. Ketika kemiskinan dijelaskan hanya sebagai kurangnya keberkahan, ketika penyakit dianggap sekadar gangguan gaib tanpa memperjuangkan akses kesehatan, ketika pemimpin dilihat sebagai sosok sakral yang tidak boleh dikritik, saat itu logika mistika bergerak menjadi—yang oleh Tan Malaka dalam bukunya Madilog—disebut sebagai sebuah “Penjara Pikiran.”

        Perbedaan tingkat kemajuan antara Turki dan Indonesia bukan muncul dari pola pikir rakyat mana yang lebih beriman atau lebih mistik, tetapi dari kapasitas negara, sejarah kolonial, kondisi geografis kepulauan yang luas, dan sejauh mana logika mistik dibiarkan mengatur cara kita mengambil keputusan kolektif.

Sumber: yolajandasi.blogspot.com

        Pada akhirnya, Turki memberi contoh bahwa masyarakat tidak harus rasional secara total untuk hidup dalam negara modern. Mistik di Turki tidak hilang; ia justru dipelihara dalam bentuk yang lebih sosial, lebih simbolis, dan tidak mengganggu kerja institusi. Orang Turki bisa percaya nasib (kısmet), tetap mengikat pita harapan di pohon (dilek aÄŸacı), atau membaca fal kopi sambil hidup sebagai dokter, insinyur, atau akademisi yang berpegang pada standar profesional. Di tingkat pribadi, logika mistik memberi ketenangan, di tingkat negara, modernisasi dijaga oleh struktur yang kuat dan relatif konsisten. Inilah harmoni yang tampak ‘aneh’ yang justru menjadi ciri Turki, sebuah bangsa yang modern tanpa merasa harus menolak hubungan dunia tak terlihat.

        Jika Indonesia ingin melihat pelajaran dari Turki, maka pelajaran itu bukan sekedar slogan “hilangkan kepercayaan mistik untuk menjadi modern.” Pesan lebih penting untuk membangun institusi yang kuat sambil tetap membiarkan masyarakat mempertahankan cara hidup mereka. Tradisi spiritual diletakkan sebagai sumber makna dan etika, bukan sebagai dalih untuk menunda reformasi, menormalisasi ketidakadilan atau menidurkan nalar kritis. Modernitas tidak menuntut kita untuk berhenti percaya pada yang gaib, tetapi meminta kita jujur dalam menempatkan keyakinan. Justru, seperti ditunjukkan Turki, keduanya bisa hidup bersama sepanjang negara tahu bagaimana membangun fondasi yang kokoh dan masyarakat berani memisahkan antara ruang iman dan ruang keputusan publik.


Penulis: Mohamad Sobrun Jamil 

Editor: Muhammad Rangga Argadinata

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak